Editor: Abdul Wahab Dai
WAJO-- keagamaan yang digelar di Masjid Agung Ummul Quraa Sengkang (Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan) pada Minggu, 8 Maret 2025 mejelang salat Zuhur mengangkat tema Sedekah Darah sebagai Bentuk Kepedulian Sosial dan Kemanusiaan.
Kegiatan ini menghadirkan penceramah Sulaeman Nyampa, S.Fil.I. Ketua FKPAI KUA Kecamatan Sabbangparu yang juga Direktur Lazizmu Wajo.
Dalam ceramahnya, Sulaeman Nyampa mengajak jamaah menjadikan donor darah sebagai sedekah kemanusiaan yang dilakukan secara bersama untuk membantu sesama yang membutuhkan.
“Sedekah tidak selalu dalam bentuk harta. Salah satu sedekah yang sangat bermanfaat adalah sedekah darah. Setetes darah yang kita sumbangkan bisa menjadi harapan hidup bagi orang lain,” ujarnya di hadapan jamaah yang memenuhi masjid.
Ia juga menegaskan bahwa donor darah tidak hanya bermanfaat bagi penerima, tetapi juga bagi orang yang mendonorkan darahnya. Dari sisi kesehatan, donor darah dapat membantu menjaga kondisi tubuh, merangsang pembentukan sel darah baru, serta membantu memperlancar sirkulasi darah.
Untuk memperkuat pesan kemanusiaan tersebut, penceramah mengutip firman Allah dalam Surah Al-Ma'idah ayat 32: “Barang siapa yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah dia telah memelihara kehidupan manusia semuanya.” (QS. Al-Ma’idah: 32)
Menurutnya, ayat tersebut menegaskan betapa besar nilai menyelamatkan kehidupan manusia. Donor darah dapat menjadi salah satu bentuk nyata dari upaya menolong dan menyelamatkan sesama.
Selain bersumber dari nilai-nilai Islam, Sulaeman Nyampa juga mengaitkan ajakan tersebut dengan kearifan lokal Bugis melalui pappaseng atau filosofi Bugis yang berbunyi: ᨄᨀᨓᨑᨘᨕᨗ ᨆᨉᨙᨌᨙᨂᨙ
ᨔᨄᨕᨗ ᨆᨉᨙᨌᨙᨂᨙ
ᨄᨘᨁᨕᨘᨕᨗ ᨆᨉᨙᨌᨙᨂᨙ
ᨉᨙᨌᨙᨈᨚ ᨄᨚᨒᨙᨊ᨞
“Pakkawarui madécéngngé, sappai madécéngngé, pugaui madecéngngé, décéng to poléna.”
Filosofi ini mengandung makna bahwa mengajak kepada kebaikan, mencari kebaikan, dan melakukan kebaikan akan menghasilkan kebaikan pula. Dengan demikian, sedekah darah merupakan kebaikan yang tidak hanya memberi manfaat bagi orang lain, tetapi juga membawa kebaikan bagi orang yang melakukannya.
Di akhir ceramahnya, Sulaeman Nyampa menyampaikan harapan besar agar gerakan sedekah darah dapat dipopulerkan melalui dua ujung.
“Pertama ujung lidah, artinya selalu dibicarakan dan disampaikan kepada orang lain. Kedua ujung jari, yaitu memanfaatkan gawai untuk menyebarkan informasi, menekakan ikon suka dan ikon berbagi setiap informasi tentang sedekah darah,” jelasnya.
Menurutnya, dengan memanfaatkan media sosial dan komunikasi sehari-hari, pesan tentang pentingnya sedekah darah dapat tersebar lebih luas di tengah masyarakat.
Ceramah tersebut mendapat sambutan positif dari jamaah yang hadir. Banyak di antara mereka menyatakan kesiapan untuk mendukung gerakan donor darah sebagai bagian dari sedekah kemanusiaan dan wujud kepedulian terhadap sesama.*
Foto: Eksklusif


