Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita
© Best Viral Premium Blogger Templates

Iklan

Sitola Angkalungung, Istiadat Memaksaku Melepas Kekasih Hati

Admin
Kamis, 12 Februari 2026 Last Updated 2026-02-13T05:15:37Z


Wawancara Khusus dengan Abdul Wahab Dai dengan Dilla April (Pelantun Lagu Soro Lempu) --Lagu Latar Film Mattaro Janci


WAJO--ᨉᨙᨁᨁ ᨄᨀᨘᨒᨙᨕᨀᨘ ᨈᨛᨉᨘᨂᨗ ᨆᨊᨛ ᨅᨚᨔᨗᨕᨙ᨞ (Aku tiada daya memayungi segenap hujan)


ᨑᨗ ᨁᨗᨒᨗ ᨈᨗᨋᨚᨀᨘ ᨊᨄᨚᨒᨙᨕᨗᨀ ᨀᨑᨙᨅ᨞ ᨀᨑᨙᨅ ᨆᨉᨙᨌᨙ ᨔᨚᨒᨂᨗ ᨔᨘᨀᨘ ᨎᨆᨛᨊ ᨌᨛᨊᨗ ᨎᨓᨀᨘ᨞ ᨔᨋᨙᨀ ᨆᨊᨓᨊᨓ ᨕᨘᨄᨑᨄᨛ ᨎᨓᨀᨘ᨞ Tatkala terjaga dari tidur, sebuah kabar baik datang yang merusak suasana hatiku. Kududuk bersandar termenung menenangkan diri.

(Terjemahan bebas)


Demikian dua cuil lirik dalam lagu Soro Lempu ᨔᨚᨑᨚ ᨒᨛᨇᨘ (terjemahan bebas: Melepaskan) yang merupakan lagu latar film Mattaro Janci ᨆᨈᨑᨚ (terjemahan bebas: Berjanji). Lagu ini diciptakan oleh Muhammad Ali (alias Ali Daeng Cupu).


Saya berkesempatan mewawancarai Fadillah Apriliani Firsan, penyanyi muda yang melantunkan lagu tema film Mattaro Janci ini. Dilla April, nama yang tertulis di pelbagai pelantar digital saat lagu ini diluncurkan 4 Februari 2026 silam adalah seorang gadis Bugis Sengkang di Kabupaten Wajo Provinsi Sulawesi Selatan yang sedang menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi Kota Daeng Makkassar.


Menurut pencipta lagu Muhammad Ali dalam sebuah wawancara kepada saya mengatakan tradisi masyarakat Bugis yang disebut Sitola Angkalungung (Turun Ranjang) menjadi latar film.


Tokoh utama film mengalami konflik batin akibat harus melepas kekasihnya dan taat adat tatkala istiadat memaksanya menikah dengan iparnya saat kakak perempuannya wafat. Dia pun harus melepas kejasih hatinya.


Berikut wawancara saya AWD (Abdul Wahab Dai) dengan FAF (Fadillah Apriliani Firsan) melalui sambungan seluler Kamis, 12 Februari 2026.



AWD: Bagaimana awalnya Anda dipercaya membawakan lagu Soro Lempu untuk film Mattaro Janci? Apakah ini lagu pertama Anda?


FAF: Awalnya, saya sama sekali tidak menyangka akan dipercaya untuk menyanyikan lagu ini. Sejak awal saya merasa bahwa dasar bermusik saya bukan pada lagu Bugis. Saya lebih dikenal sebagai penyanyi religi atau bernuansa Arab, sementara lagu pop hanya menjadi genre tambahan yang saya pelajari.


Ketika pertama kali ditawari untuk membawakan lagu Bugis berjudul Soro Lempu (yang saat itu bahkan belum saya dengar musiknya), saya langsung mengatakan bahwa saya tidak mampu menyanyikan lagu Bugis karena merasa bukan di bidang saya. 


Sebelumnya pun saya pernah menolak tawaran serupa, sehingga kali ini saya merasa akan kembali menolak, meskipun lagu ini adalah soundtrack (lagu latar) film. 


Saya khawatir jika saya yang membawakannya justru tidak sesuai dengan ekspektasi para pencinta lagu Bugis. Kurang lebih tiga sampai lima kali saya menolak tawaran tersebut, hingga akhirnya saya memberanikan diri untuk menerima karena banyaknya dukungan dan dorongan agar saya mengambil kesempatan ini. 


Setelah mulai mempelajari lagunya, saya jujur merasa cukup kaget. Selama ini saya terbiasa menyanyikan lagu-lagu bernuansa santai, sementara lagu ini memiliki emosi yang meledak-ledak dan nada yang terasa “bukan Dilla banget”. 


Lagu ini juga tergolong sulit, apalagi dibalut dengan lirik yang sangat menyayat hati. Di satu sisi saya merasa tertantang, namun di sisi lain saya merasa seluruh beban ada di pundak saya.


Untuk menjawab pertanyaan terakhir, ya Soro Lempu adalah lagu Bugis pertama saya yang benar-benar saya persembahkan untuk didengar oleh banyak orang. Memang sejak SD dan SMP saya pernah menciptakan lagu, tetapi itu hanya untuk konsumsi pribadi. 


Jadi bisa dibilang, inilah lagu saya yang pertama dengan genre Bugis.


AWD: Apa yang Anda rasakan pertama kali ketika membaca lirik lagu ini? Apa makna “Soro Lempu” dalam konteks kisah perempuan yang harus melepaskan cintanya karena adat?


FAF: Sejujurnya, saya tidak terlalu lancar berbahasa Bugis, terlebih beberapa lirik lagu ini menggunakan bahasa Bugis klasik (sanja' papaseng) di mana terdapat petuah bugis dengan makna di dalamnya. Bahasa Bugis sehari-hari saja saya masih kurang pahami, apalagi bahasa Bugis klasik.


Namun, saya sangat terbantu oleh pencipta lagu yang menerjemahkan lirik kata per kata sekaligus menjelaskan maknanya. Dari situ saya menyadari bahwa lagu ini memiliki makna yang sangat dalam, terutama bagi mereka yang pernah berada di posisi serupa. 


Lagu ini sebenarnya menghadirkan dua sudut pandang laki-laki dan perempuan yang keduanya sama-sama terluka oleh keadaan. Jadi lagu ini menghadirkan dua sudut pandang bukan salah satunya. 


Makna Soro Lempu bagi tokoh perempuan yang saya tangkap adalah tentang ketulusan, keikhlasan, dan kepasrahan yang menyakitkan: melepaskan cinta bukan karena tidak ingin, tetapi karena keadaan dan adat yang memaksa.


AWD: Seberapa dalam Anda mencoba masuk ke karakter perempuan dalam film sebelum proses rekaman?


FAF: Saat proses pengambilan vokal, saya tidak secara khusus mendalami karakter perempuan dalam film. Saya lebih memosisikan diri sebagai seseorang yang ditinggalkan di saat sedang sedang-sayangnya, dan sebagai seseorang yang kebingungan menghadapi kenyataan yang datang secara tiba-tiba.


Saya juga membuat perumpamaan dengan kondisi pribadi saya saat itu. Ketika proses rekaman berlangsung, saya sedang dalam kondisi sakit dan batuk akibat cuaca yang tidak mendukung. Di sisi lain, lagu ini bukan genre saya dan memiliki tingkat kesulitan yang cukup tinggi, sementara ekspektasi terhadap proyek ini sangat besar. Semua itu membuat saya merasa terbebani.


Seperti pada lirik “rigiling tinroku… nafoleika kareba… kareba madeceng solangi sukku nyamenna cenning nyawaku”...., kurang lebih maknanya adalah seseorang yang menjalani hari-harinya seperti biasa, lalu seiring berjalannya waktu tiba-tiba datang sebuah kabar yang merusak suasana hatinya. 


Kabar tersebut merupakan kabar baik bagi semua orang (yakni kabar pernikahan) tetapi tidak bagi dirinya sendiri.

Saya merasa sangat relate (senasib) dengan lirik tersebut, karena lagu ini datang secara tiba-tiba pada saat saya sedang fokus pada urusan kuliah. 


Situasi itu menjadi beban bagi saya, karena banyak orang menaruh ekspektasi yang tinggi terhadap proyek ini. Saya takut jika saya yang membawakan lagu ini tidak mampu memenuhi harapan orang-orang. Intinya, ini adalah kabar baik bagi banyak orang, tetapi tidak sepenuhnya bagi saya, karena jujur saya belum siap, sementara di sisi lain saya sudah terlanjur terjun dan berkomitmen dalam proyek ini.


Secara jujur, pernah ada satu waktu (ketika proses take --pengambilan-- vokal sudah berjalan) di mana setelah selesai rekaman, pada malam harinya saya menangis karena merasa tidak tahu harus membawa diri saya ke arah mana. 


Kondisi saya saat itu sedang batuk dan tidak memungkinkan untuk mengambil nada dengan maksimal. Hingga akhirnya saya menghubungi penulis lagu pada pukul tiga subuh dan mengatakan, “Kak, saya menyerah. Sudah berhari-hari kita take, tetapi suara saya belum juga sembuh.”


Momen tersebut adalah saat di mana saya benar-benar merasa sangat terhubung dengan lirik “utiwi kegani kasii… solo’ na wae matakku”, karena jujur saya tidak mampu membendung semuanya sendiri. Saya tidak bisa meyakinkan diri saya bahwa saya mampu melewati keadaan tersebut. 


Yang terus terucap dalam doa saya saat itu hanyalah, “Ya Allah, tolong yakinkan saya di atas keraguan saya sendiri.” Saya menyadari bahwa saya tidak bisa menanggung beban ini sendirian tanpa pertolongan-Nya sebagai Maha Penolong. 


Hal ini sangat berkaitan dengan lirik “degaga fakkuleangku teddungi maneng bosi e", yang artinya bahasa Indonesianya: "tidak ada kekuatanku untuk memayungi semua hujan",  yang bermakna tidak adanya daya dan upaya untuk memikul semua beban tersebut sendiri.


Sementara itu, untuk proses pengambilan video, karena begitu ingin merasakan karakter perempuan dalam cerita ini, saya sampai meminta izin kepada sutradara untuk menonton film tersebut secara full (penuh) sebelum penayangan. 


Hal ini saya lakukan karena dalam klip video saya berperan sebagai penerjemah atau penghubung antara cerita film dan lagu yang saya bawakan.


AWD: Adakah bagian lirik yang paling emosional atau paling berat Anda nyanyikan? Mengapa?


FAF: Bagian yang paling berat dan emosional bagi saya adalah pada bagian pertengahan hingga akhir lagu, khususnya pada lirik “degaga fakkuleangku teddungi maneng bosi e”. Pada bagian ini, nuansanya memang terdengar lembut, yang dapat diibaratkan seperti suara halus atau tangisan yang telah lama tertahan. 


Setelah lirik tersebut, emosi dalam lagu mulai meningkat dan cenderung “mengamuk” hingga bagian akhir.


Bagian ini menggambarkan seseorang yang berada dalam keadaan bingung dan tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap situasi yang dihadapinya. 


Ingin menangis terasa percuma, ingin marah pun seolah tidak ada gunanya. Oleh karena itu, emosi dalam lagu ini dimainkan secara bertahap.

Selain membutuhkan kekuatan vokal yang besar, bagian ini juga menuntut luapan emosi yang kuat. 


Pada saat proses rekaman, kondisi fisik saya tidak sepenuhnya mendukung, sehingga pengambilan bagian ini menjadi tantangan tersendiri, terlebih karena sebelumnya saya sudah sangat nyaman bernyanyi di zona nyaman saya.


AWD: Lagu ini berkaitan dengan tradisi turun ranjang (sitola angkalungung/ᨔᨗᨈᨚᨒ ᨕᨃᨒᨘᨂᨘ). Sebagai perempuan muda Bugis, bagaimana pandangan Anda terhadap tradisi tersebut?


FAF: Sebagai perempuan Bugis, saya justru baru mengetahui secara detail tentang tradisi ini setelah mendapatkan penjelasan dalam konteks film. Mungkin karena perbedaan generasi, saya belum pernah melihat langsung praktik adat tersebut.


Secara pribadi, saya merasa tradisi ini cukup berat, terutama jika dilihat dari sudut pandang perempuan. Dalam konteks cerita film, ketika seorang adik harus menggantikan kakaknya untuk menikah dengan iparnya, hal tersebut tentu menjadi situasi yang sangat sulit. 


Jika tidak ada rasa cinta, tekanan emosionalnya akan sangat besar. Namun demikian, saya tetap bersyukur menjadi bagian dari masyarakat Bugis yang memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. 


Saya juga sangat menghargai siapa pun yang pernah menjalani tradisi ini, karena membangun kehidupan dan perasaan dalam kondisi seperti itu bukanlah hal yang mudah.



AWD: Apakah Anda melihat lagu ini hanya sebagai kisah cinta yang gagal, atau juga sebagai refleksi tentang posisi perempuan dalam tekanan keluarga dan adat?


FAF: Menurut saya, Soro Lempu tidak hanya menceritakan kisah cinta yang gagal. Lagu ini juga merupakan refleksi tentang posisi perempuan yang sering kali berada di bawah tekanan keluarga dan adat. 


Perempuan digambarkan harus mengalah dan menerima keputusan besar dalam hidupnya, meskipun hal tersebut melukai perasaannya.

Lagu ini menunjukkan bagaimana perempuan dituntut untuk kuat, ikhlas, dan patuh, sekalipun tidak diberi ruang untuk memilih. 


Oleh karena itu, Soro Lempu tidak hanya berbicara tentang patah hati, tetapi juga tentang pengorbanan, ketegaran, dan realitas sosial yang masih relevan hingga saat ini. 


Dan gambaran dari Soro Lempu pun digambarkan pada sisi laki laki yang menjadi kekasih si perempuan, karena dia juga korban (sekali lagi lagu ini memiliki persamaan dari kedua sudut pandang laki laki dan perempuan).


AWD: Apa tantangan terbesar menyanyikan lagu berbahasa Bugis dengan muatan emosi yang kuat? Apakah ada arahan khusus pencipta lagu saat rekaman?


FAF: Kalau untuk arahan, tentu sangat banyak, apalagi kemampuan bahasa Bugis saya masih terbatas. Jika dalam istilah orang Bugis, mungkin bisa dibilang bahasa saya masih “mabekko”, sehingga saya masih sangat membutuhkan arahan, terutama dalam pelafalan dan penekanan lirik agar maknanya benar-benar tersampaikan.


Selain itu, saya juga diarahkan untuk mengekspresikan emosi yang lebih kuat, bahkan seperti “mengamuk”, karena karakter lagu ini menggambarkan usaha menerima kenyataan, tetapi pada saat yang sama juga belum mampu sepenuhnya menerima keadaan tersebut. Sementara itu, karakter dasar suara saya cenderung lembut, sehingga ketika diminta untuk mengeluarkan emosi yang meledak-ledak, saya merasa cukup bingung dan perlu banyak penyesuaian.


Dengan nada bercanda, Saya sempat bertanya kepada pencipta lagu, “Kak, bisa tidak dikasih semacam tutorial supaya bisa ‘mengamuk’ ?” Kemudian ia menjelaskan dengan meminta saya membayangkan kondisi saya sendiri selama proses rekaman, bagaimana saya harus bolak-balik take vokal, pulang dari praktik rumah sakit lalu menyelipkan waktu untuk rekaman, menjaga suara agar batuk tidak semakin parah, serta rutin minum obat. 


Lalu ia meminta saya membayangkan jika suatu saat ia mengatakan bahwa saya tidak perlu lagi menyanyikan lagu ini dan semua usaha tersebut terasa sia-sia. Ia lalu bertanya, bagaimana kira-kira perasaan saya.


Saya menjawab bahwa tentu saya akan marah dan kecewa, karena saya sudah bersusah payah membagi waktu dan tenaga, tetapi pada akhirnya semua terasa percuma. Dari situlah ia mengatakan bahwa emosi itulah yang ingin ia dengar dalam lagu ini, bukan kemarahan yang berlebihan, tetapi luapan emosi yang jujur dan lahir dari pengalaman pribadi.


AWD: Berapa kali Anda harus mengulang rekaman untuk mendapatkan rasa yang pas?


FAF: Proses rekaman dilakukan berkali-kali, bahkan saya sendiri tidak dapat menghitung jumlah pengulangannya. Jika melihat dari penjelasan-penjelasan sebelumnya, alasan di balik banyaknya pengulangan tersebut mungkin sudah cukup jelas. 


Selain kondisi fisik yang tidak selalu mendukung, saya juga belum pernah mengalami cerita yang benar-benar sama dengan kisah dalam lagu ini—dan semoga tidak pernah mengalaminya. 


Oleh karena itu, saya harus menggunakan perumpamaan dan pengalaman pribadi agar dapat menemukan rasa yang tepat dalam setiap bagian lagu.


AWD: Apa pesan yang ingin Anda sampaikan kepada perempuan yang mungkin mengalami situasi serupa dengan tokoh dalam film ini?


FAF: Pesan yang ingin saya sampaikan adalah agar tetap kuat dan tidak menyerah. Terkadang, apa yang menurut kita baik belum tentu terasa baik ketika dijalani, dan apa yang menurut kita tidak baik belum tentu benar-benar buruk. Jawaban atas setiap kejadian akan datang seiring berjalannya waktu, termasuk alasan mengapa kita ditempatkan pada posisi tertentu dalam hidup.


Kita hanya bisa merencanakan, berusaha, dan berikhtiar, tetapi pada akhirnya Sang Maha Penentu-lah yang menentukan bagaimana jalan hidup dan takdir kita ke depannya.



AWD: Jika harus merangkum Soro Lempu dalam satu kalimat untuk para penikmat musik, apa yang ingin Anda katakan?


FAF: Sebenarnya satu kalimat saja tidak cukup untuk merangkum lagu ini hehehe. Namun pada intinya, Soro Lempu merupakan bentuk pembaruan dalam bermusik, khususnya pada lagu Bugis, dengan menghadirkan alunan musik semi-orkestra. 


Lagu ini diciptakan untuk menunjukkan bahwa lagu Bugis juga dapat berkembang secara modern tanpa menghilangkan makna, nilai, dan identitasnya. Lagu ini tetap berakar pada budaya Bugis melalui penggunaan bahasa Bugis terdahulu, serta sejalan dengan konsep Sanja Papaseng Ogi Toriolo, yaitu ungkapan yang sarat makna dan menggunakan kiasan, sehingga pesan yang disampaikan di beberapa lirik tidak bersifat langsung, melainkan tersirat dan mendalam.


Sumber Foto: Koleksi Pribadi Dilla April

Berita Lainnya

Tampilkan

  • Sitola Angkalungung, Istiadat Memaksaku Melepas Kekasih Hati
  • 0

Terkini