Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita
© Best Viral Premium Blogger Templates

Iklan

Pengajian Ramadan Ekoteologi: Seruan Bersama Merawat Alam sebagai Bentuk Sedekah

Admin
Kamis, 05 Maret 2026 Last Updated 2026-03-05T15:18:43Z


Oleh Sulaeman Nyampa, S.Fil.I. 

Ketua Forum Komunikasi Penyuluh Agama Islam (FKPAI) KUA Kecamatan Sabbangparu


WAJO--Semangat menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian dari nilai-nilai keagamaan mengemuka dalam kegiatan Pengajian Zoom Ramadan bertema “Ekoteologi: Manusia dan Alam Sekitar Saling Bersedekah” yang digelar oleh Kantor Urusan Agama Kecamatan Sabbangparu pad Kamis, 05/03/2026 ini.


Kegiatan ini berlangsung secara daring melalui pelantar temu virtual Zoom mulai pukul 9.00 Wita. Pengajian tersebut menghadirkan dua narasumber utama, yakni Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Wajo KM. H. Subhan Juddah, S.Ag., M.Pd.I. serta akademisi yang juga Guru Besar Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar Prof. Drs. Wahyuddin Halim, M.A., Ph.D. 



Kegiatan ini diikuti oleh para pimpinan di lingkungan Kementerian Agama Kabupaten Wajo, para kepala KUA se-Kabupaten Wajo, serta seluruh penyuluh agama Islam dalam lingkup Kemenag Wajo.


Pengajian Ramadan ini diinisiasi oleh Kepala Kantor Urusan Agama Kecamatan Sabbangparu, M. Sakri Nur, S.Ag., M.Si. Dalam sambutannya ia menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut yang diharapkan dapat memperkuat kesadaran ekologis berbasis nilai-nilai keagamaan.


“Alhamdulillah, kami bersyukur kegiatan ini dapat diinisiasi oleh KUA Sabbangparu. Melalui pengajian ini kami berharap tumbuh kesadaran bahwa menjaga alam merupakan bagian dari ibadah kita kepada Allah SWT,” ujarnya.


Dalam pemaparannya, Subhan Juddah menegaskan bahwa alam telah banyak memberikan “sedekah” kepada manusia. Udara yang bersih, air yang mengalir, tanah yang subur, serta berbagai sumber kehidupan lainnya merupakan karunia Allah yang harus dijaga dengan penuh tanggung jawab.


Ia juga mengingatkan agar manusia tidak merusak alam dengan tindakan seperti menebang pohon secara sembarangan atau membuang sampah tanpa pengelolaan yang baik. Menurutnya, kerusakan lingkungan pada akhirnya akan merugikan generasi mendatang.


Sementara itu, Wahyuddin Halim menjelaskan bahwa konsep ekoteologi dalam Islam menempatkan manusia sebagai khalifah di bumi yang memiliki tanggung jawab moral dan spiritual untuk merawat alam.



Menurutnya, kesalehan spiritual seorang muslim sejatinya tidak hanya terlihat dari ibadah ritual, tetapi juga dari kepeduliannya terhadap kelestarian lingkungan.

“Jika ibadah spiritual kita benar, maka akan lahir kesadaran untuk bersedekah kepada alam, yaitu dengan menjaganya, merawatnya, dan tidak merusaknya,” jelasnya.


Dalam pengajian tersebut, kedua narasumber juga menyerukan pentingnya membangun kesadaran kolektif dalam menjaga lingkungan. Para penyuluh agama dan aparat Kementerian Agama diharapkan dapat menjadi pelopor dalam menyampaikan pesan-pesan keagamaan yang mendorong masyarakat untuk merawat alam.



Gerakan kesadaran ekologis ini juga sejalan dengan program penguatan kepedulian lingkungan yang terus didorong oleh Menteri Agama RI Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, M.A. melalui berbagai program di Kemenag RI mengintegrasikan nilai keagamaan dengan tanggung jawab menjaga kelestarian bumi.


Melalui pengajian Ramadan bertema ekoteologi ini diharapkan lahir gerakan nyata di tengah masyarakat bahwa manusia dan alam sejatinya saling memberi. Alam memberi kehidupan kepada manusia, sementara manusia berkewajiban menjaga dan merawatnya sebagai bentuk sedekah dan tanggung jawab moral demi keberlanjutan kehidupan generasi mendatang. 


Foto: Sulaeman Nyampa

Editor: Abdul Wahab Dai


Berita Lainnya

Tampilkan

  • Pengajian Ramadan Ekoteologi: Seruan Bersama Merawat Alam sebagai Bentuk Sedekah
  • 0

Terkini