Oleh: Muh. Rifki
Ketua BEM FEB-UMI Makassar
HARI ini kita berkumpul bukan sekadar untuk mengenang sebuah peristiwa dalam catatan Sejarah. Kita hadir untuk merawat ingatan, meneguhkan sikap, dan memastikan bahwa tragedi kemanusiaan yang pernah terjadi tidak terkubur oleh waktu.
Tragedi AMARAH (April Makassar Berdarah), 23–24 April 1996 adalah luka dalam perjalanan panjang perjuangan mahasiswa, khususnya di Universitas Muslim Indonesia. Peristiwa ini bukan hanya tentang bentrokan antara mahasiswa dan aparat, melainkan tentang bagaimana suara kebenaran dibungkam dengan kekerasan.
Tiga nama yang hari ini kita sebut dengan penuh hormat—Syaiful, Andi Sultan Iskandar, dan Tasrif— bukan sekadar korban. Mereka adalah simbol keberanian, representasi nurani, dan bukti bahwa mahasiswa pernah berdiri paling depan dalam melawan ketidakadilan.
Mereka gugur saat memperjuangkan kepentingan rakyat kecil, menolak kebijakan yang memberatkan, dan menyuarakan keadilan sosial. Namun, hingga hari ini, keadilan yang mereka perjuangkan belum sepenuhnya terwujud.
Perimgatan AMARAH 1996 edisi tahun 2025.
Saudaraa-saudara sekalian!
Refleksi ini seharusnya tidak berhenti pada rasa duka. Ia harus menjadi pengingat bahwa sejarah memiliki kecenderungan untuk berulang ketika kita memilih untuk melupakan.
Kita tidak bisa menutup mata bahwa berbagai bentuk ketidakadilan masih terjadi. Kekerasan, penyalahgunaan kekuasaan, serta lemahnya penegakan hukum masih menjadi persoalan yang kita hadapi bersama.
Oleh karena itu, mengenang Tragedi AMARAH bukan hanya soal masa lalu—tetapi tentang tanggung jawab kita hari ini dan masa depan.
Sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Wiji Thukul, “Hanya ada satu kata: lawan.” Namun, perlawanan hari ini tidak selalu harus dimaknai sebagai konfrontasi, melainkan sebagai keberanian untuk bersuara, berpikir kritis, dan tetap berpihak pada kebenaran.
Sebagai mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis, kita memiliki tanggung jawab moral dan intelektual untuk memastikan bahwa ilmu yang kita pelajari tidak menjauh dari realitas sosial. Bahwa kita tidak hanya menjadi pengamat, tetapi juga bagian dari solusi atas ketidakadilan yang terjadi.
Sebagai Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muslim Indonesia, saya menegaskan bahwa kami tidak akan membiarkan sejarah ini hilang begitu saja. Kami berkomitmen untuk terus menjaga nilai-nilai perjuangan, memperkuat kesadaran kritis mahasiswa, serta menjadi garda terdepan dalam menyuarakan keadilan dan kebenaran.
Kami percaya bahwa kampus bukan hanya ruang belajar, tetapi juga ruang perjuangan. Oleh karena itu, BEM FEB UMI akan terus hadir sebagai wadah aspirasi, sebagai penggerak perubahan, dan sebagai penjaga nurani bagi kepentingan masyarakat luas.
Mari kita jadikan momen ini sebagai pengingat bahwa melawan lupa adalah bentuk paling sederhana dari perjuangan, dan menjaga nurani adalah bentuk tertinggi dari keberanian.
Akhir kata, semoga perjuangan dan pengorbanan para korban Tragedi Amarah menjadi cahaya yang terus menerangi langkah kita dalam memperjuangkan keadilan.
Sumber Foto: Ardyansyah Rahmat
Penyunting: Abdul Wahab Dai



