Abdul Wahab Dai
melaporkan dari Sengkang
WAJO—Para penduduk pesisir danau purba Danau Tempe di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan menyebut banjir sebagai ᨆᨙᨋᨙᨕᨗ ᨓᨕᨗᨕᨙ ménrék i waiyé (harafiah: air meninggi, air menaik) alih-alih menyebutnya ᨒᨙᨇᨛ lémpek (banjir).
Kedatangannya selalu disambut setiap tahun dengan segala persiapan. Danau Tempe adalah muara dari 11 sungai di antaranya Sungai Walanae, Sungai Bila, dan Sungai Batu-Batu, kemudian Sungai Cenranae menjadi sungai pembuangan Danau Tempe menuju Teluk Bone.
Sudirman Sabang –penulis buku-buku tentang kebudayaan di Wajo—kepada media ini menyebut banjir musiman di pesisir Danau Tempe wilayah Wajo sebagai sebuah siklus dan berbeda dengan banjir di Pitumpanua (2024) misalnya.
“Banjir di Siwa disebut banjir bandang dengan arus yang deras, kalau di sini lebih kepada genangan air yang meninggi, makanya disebut ménrék waiyé, bukan lémpek,” ujarnya dalam sebuah wawancara di Lobi Hotel Sermani, Sengkang Kamis sore, (14/05/2026) lalu.
Rumah panggung tradisional masyarakat Bugis kembali menunjukkan keunggulannya di tengah meningkatnya ancaman banjir di berbagai wilayah Indonesia. Penelitian terbaru yang dilakukan tim peneliti Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) yang berkolaborasi dengan Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar (UINAM) menemukan bahwa rumah panggung Bugis memiliki kemampuan adaptif yang sangat tinggi dalam menghadapi bencana banjir.
Kesimpulan sementara tersebut diperoleh setelah tim peneliti melakukan pengumpulan data selama 11 hari (7 – 17/05/2026) pada empat kecamatan pesisir Danau Tempe (termasuk Danau Lampulung) di Kabupaten Wajo yakni Kecamatan Tempe, Sabbangparu, Tanasitolo, dan Pammana. Penelitian dilakukan melalui wawancara mendalam dengan pemilik rumah, ᨄᨋᨙ ᨅᨚᨒ (panré bola) atau ahli rumah tradisional Bugis, tokoh adat, pejabat pemerintah, serta observasi langsung di kawasan terdampak banjir.
Ketua tim peneliti Muhammad Amir menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh informan yang telah mendukung proses penelitian di lapangan. Menurutnya keterbukaan masyarakat dalam memberikan informasi menjadi bagian penting dalam keberhasilan penelitian ini.
“Kami menyampaikan terima kasih kepada para informan, mulai dari pemilik rumah, panré bola, tokoh adat, hingga pejabat pemerintah setempat yang telah membantu memberikan data dan informasi selama penelitian berlangsung,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa kawasan permukiman masyarakat Bugis di sekitar Danau Tempe dan Sungai Walanae secara rutin mengalami banjir musiman akibat kondisi geografis berupa dataran rendah, rawa, dan kedekatan dengan sistem perairan utama. “Hasil observasi menunjukkan tinggi genangan banjir berkisar antara 30 sentimeter hingga 150 sentimeter dan dapat bertahan selama tiga hingga tujuh hari sebelum surut,” ujarnya.
Namun di tengah kondisi tersebut, rumah panggung Bugis justru menunjukkan daya tahan yang luar biasa. Rumah-rumah tradisional itu dibangun dengan struktur kayu yang ditinggikan sekitar dua meter dari permukaan tanah dan memiliki ruang terbuka di bagian bawah rumah atau ᨕᨓ ᨅᨚᨒ (awa bola). Desain ini memungkinkan air banjir mengalir tanpa langsung memasuki ruang utama tempat tinggal warga.
Akibatnya, walau banjir melanda, aktivitas domestik masyarakat tetap dapat berjalan. Penelitian juga menemukan bahwa penggunaan kayu lokal seperti aju seppuuk (ᨕᨍᨘ ᨔᨛᨄᨘ) atau ulin/bulian/kayu besi (Eusideroxylon zwageri) dan aju bitti (ᨕᨍᨘ ᨅᨗᨈᨗ)/gofasa (Vitex cofassus) ditambah teknik sambungan tradisional berbasis pasak kayu membuat struktur rumah lebih fleksibel dan tahan terhadap tekanan air maupun kondisi tanah yang lembap.
Anggota tim peneliti Abd. Kadir Massoweang menambahkan bahwa kekuatan rumah panggung Bugis tidak hanya terletak pada aspek fisik bangunan, tetapi juga pada sistem sosial dan pengetahuan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
“Masyarakat Bugis memiliki pemahaman yang kuat tentang pola banjir, arah aliran air, elevasi rumah, hingga penentuan lokasi aman untuk permukiman. Pengetahuan ini menjadi dasar dalam pembangunan rumah panggung,” jelasnya.
Menurutnya, solidaritas sosial masyarakat juga menjadi bagian penting dari sistem mitigasi tradisional tersebut. Saat banjir terjadi warga saling membantu dan rumah panggung kerap difungsikan sebagai tempat perlindungan sementara bagi masyarakat terdampak.
Temuan menarik lainnya terlihat dari hasil perbandingan dengan rumah nonpanggung berbahan beton. Rumah modern tersebut dinilai lebih rentan mengalami kerusakan karena air mudah masuk ke ruang hunian. Sebaliknya, rumah panggung mampu menjaga area utama rumah tetap aman dan membutuhkan proses pemulihan yang jauh lebih ringan setelah banjir surut.
Penelitian ini mempertegas bahwa rumah panggung Bugis bukan sekadar simbol budaya atau warisan arsitektur tradisional. Lebih dari itu, rumah panggung merupakan bentuk mitigasi bencana berbasis kearifan lokal yang terbukti efektif dan masih sangat relevan untuk diterapkan di kawasan rawan banjir, khususnya wilayah dataran banjir (floodplain) seperti Kabupaten Wajo.
Tim peneliti menilai hasil studi ini memiliki implikasi penting bagi kebijakan pembangunan ke depan. Integrasi kearifan lokal dalam tata ruang dan pembangunan perumahan dinilai mendesak dilakukan, terutama di daerah yang kerap dilanda banjir.
Selain itu, para peneliti mendorong pengembangan standar desain rumah adaptif berbasis rumah panggung yang tetap mempertahankan prinsip elevasi bangunan dan permeabilitas aliran air. Model ini dinilai dapat menjadi solusi alternatif untuk pembangunan permukiman yang lebih tangguh terhadap bencana.
Peneliti juga menekankan pentingnya melibatkan aktor lokal seperti panrita bola (ᨄᨋᨗᨈ ᨅᨚᨒ) dalam proses pembangunan. Pengetahuan empiris yang mereka miliki dianggap berperan besar dalam menjaga keberlanjutan praktik adaptasi masyarakat Bugis yang telah teruji selama puluhan bahkan ratusan tahun.
Banyak rumah yang memiliki perahu dan terparkir di kolong rumah. Ada kantor instansi pemerintah yang dibangun bertiang layaknya rumah panggung. Misalnya Kantor Kelurahan Salomenraleng di Kecamatan Tempe dibangun dengan konstruksi rumah panggung bertiang beton dengan lantai dan dinding kayu.
Ada juga sarana pendidikan yang justru dibangun sebagai rumah panggung (rumah kayu) seperti kompleks UPTD SDN 20 Salomenraleng yang di kolongnya tersedia perahu, atau kompleks SDN 21 Salomenraleng bermodel rumah panggung dengan tiang beton. Juga didapati beberapa masjid bertiang beton bermodel rumah panggung sebagai bagian dari adaptasi dengan banjir musiman.
Sumber Foto: Tim Peneliti BRIN dan UINAM










