Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita
© Best Viral Premium Blogger Templates

Iklan

BRIN KKB Makassar Teliti Model Mitigasi Bencana Berbasis Arsitektur Rumah Panggung Bugis Wajo

Admin
Sabtu, 09 Mei 2026 Last Updated 2026-05-09T13:48:39Z



WAJO-Tim peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Khazanah Keagamaan dan Peradaban (KKB) Makassar saat ini sedang melakukan penelitian tentang model mitigasi bencana banjir berbasis arsitektur rumah panggung Bugis di Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan. 


Penelitian lapangan tersebut berlangsung selama 11 hari, mulai 7 hingga 17 Mei 2026 mendatang dengan melibatkan kolaborasi bersama peneliti dari Fakultas Adab dan Humaniora UIN Alauddin Makassar. 


Penelitian ini dipimpin oleh Drs. Muhammad Amir, M.Si., dengan anggota tim terdiri atas Prof. Dr. H. Abd. Kadir M., M.Ag., Muhammad Dachlan, S.E., S.IP., M.Pd., Abd. Rahman Arsyad, S.Sos., M.Si., serta Dr. Muhammad Arif, S.Hum., M.Hum. dari UIN Alauddin Makassar. 



Riset tersebut merupakan bagian dari Rumah Program Budaya Berkelanjutan BRIN tahun 2026 dengan fokus pengembangan model budaya unggul untuk lingkungan berkelanjutan. 


Ketua tim peneliti, Drs. Muhammad Amir, M.Si., menjelaskan bahwa penelitian ini berangkat dari meningkatnya kerentanan banjir di Kabupaten Wajo, khususnya di kawasan sekitar Danau Tempe (ᨈᨄᨑᨛ ᨀᨑᨍ 

Tappareng Karaja) dan wilayah dataran rendah. 


Menurit Muhammad Amir rumah panggung Bugis sejak dahulu sesungguhnya dirancang sebagai bentuk adaptasi ekologis masyarakat terhadap kondisi hidrologis yang dinamis. “Rumah panggung Bugis bukan sekadar warisan budaya atau simbol identitas masyarakat Bugis, di dalamnya terdapat pengetahuan lokal yang sangat kuat tentang bagaimana manusia hidup berdampingan dengan air dan lingkungan rawan banjir,” ujarnya saat ditemui media ini di Sengkang Sabtu pagi (09/05/2026) ini.



Penelitian ini menitikberatkan pada identifikasi berbagai elemen arsitektur rumah panggung Bugis yang memiliki fungsi mitigatif terhadap banjir, seperti struktur kolong rumah, elevasi lantai, sistem fondasi, orientasi bangunan, pemilihan material kayu, hingga pola drainase tradisional. 


Tim peneliti juga melakukan observasi langsung terhadap rumah-rumah panggung di sejumlah wilayah rawan banjir di Kabupaten Wajo. Selain observasi lapangan, penelitian dilakukan melalui wawancara mendalam dengan tokoh adat, pemilik rumah panggung, tukang tradisional, serta masyarakat setempat. 


Tim peneliti juga melakukan dokumentasi visual, pemetaan kawasan genangan banjir, dan analisis hubungan antara struktur rumah panggung dengan pola banjir musiman yang terjadi di Wajo. 


Abd. Kadir M. menjelaskan bahwa penelitian ini tidak hanya berbicara tentang arsitektur tradisional, tetapi juga tentang bagaimana kearifan lokal Bugis dapat menjadi solusi ekologis di tengah meningkatnya ancaman perubahan iklim dan bencana hidrometeorologis.



“Kita ingin menunjukkan bahwa budaya lokal memiliki kapasitas besar dalam menjawab persoalan modern, termasuk mitigasi bencana. Rumah panggung Bugis adalah contoh nyata bagaimana leluhur Bugis telah membangun sistem adaptasi lingkungan yang sangat relevan hingga hari ini,” terangnya.


Kabupaten Wajo dipilih sebagai lokasi penelitian karena wilayah ini memiliki karakteristik ekologis yang unik, terutama kedekatannya dengan Danau Tempe dan tingginya intensitas banjir musiman. Selain itu, Wajo masih memiliki konsentrasi rumah panggung Bugis yang relatif terpelihara sehingga memungkinkan penelitian dilakukan secara lebih mendalam dan autentik.


Saat berita ini dirilis malam ini Sabtu (09/05/2026), para peneliti BRIN ini telah mengunjungi kawasan pesisir Danau Tempe di Desa Nepo, Desa Ujunge (Kecamatan Tanasitolo). Mereka juga mendatangi Danau Lampulung di Desa Lampulung (Kecamatan Pammana) dan Kelurahan Salomenraleng di Kecamatan Tempe.



Esok Senin (10/05/2026) mereka menjadwalkan mengunjungi Kelurahan Wiringpalennae (Kecamatan Tempe).


Hasil penelitian ini nantinya diharapkan melahirkan model konseptual mitigasi banjir berbasis arsitektur rumah panggung Bugis yang dapat diadaptasi dalam pembangunan permukiman modern dan kebijakan tata ruang daerah. Selain itu, riset ini juga ditargetkan menghasilkan artikel ilmiah internasional yang akan diunggah ke jurnal bereputasi internasional yakni International Journal of Disaster Risk Reduction (IJDRR). 


Melalui penelitian ini, tim peneliti berharap kearifan lokal Bugis tidak hanya dipahami sebagai warisan budaya masa lalu, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan penting untuk membangun masyarakat yang lebih tangguh terhadap bencana dan lebih berkelanjutan di masa depan.


Sumber Foto: KKB Makassar/BRIN

Berita Lainnya

Tampilkan

  • BRIN KKB Makassar Teliti Model Mitigasi Bencana Berbasis Arsitektur Rumah Panggung Bugis Wajo
  • 0

Terkini