Liputan Abdul Wahab Dai
YOGYAKARTA--Dr. Herman, S.Pd., M.Pd. --yang merupakan dosen Universitas Negeri Yogyakarta (UNY)-- sebagai Presiden Perhimpunan Pengajar Prancis Seluruh Indonesia (PPPSI) menyambut dengan rasa syukur dan apresiasi yang tinggi pernyataan Presiden Prabowo Subianto yang menginstruksikan agar seluruh sekolah di Indonesia mengajarkan bahasa Prancis.
"Pernyataan tersebut merupakan sinyal positif yang menunjukkan perhatian pemerintah terhadap pentingnya penguasaan bahasa Prancis sebagai sarana penguatan sumber daya manusia, kerja sama internasional, serta dialog antarbudaya. Kami berharap momentum ini dapat menjadi langkah awal bagi penguatan pendidikan bahasa Prancis di Indonesia secara terencana, inklusif, dan berkelanjutan, sehingga semakin banyak generasi muda Indonesia yang memperoleh akses terhadap peluang akademik, profesional, dan budaya di negara-negara frankofon," tulis Herman dalam sebuah pernyataan resmi yang diterima redaksi malam ini.
Herman melanjutkan selain sebagai peluang untuk memperkuat hubungan bilateral Indonesia dan Prancis, pernyataan tersebut dapat dipandang sebagai bagian dari visi penguatan kompetensi global generasi muda Indonesia melalui penguasaan berbagai bahasa asing dan pemahaman lintas budaya.
PPPSI atau APFI (Association des professeurs de français d'Indonésie) pun mengapresiasi dan menyambut baik perhatian pemerintah terhadap perlunya belajar bahasa Prancis.
PPPSI memandang ini sebagai sikap resmi pemerintah yang menilai bahwa bahasa Prancis memiliki nilai strategis dalam diplomasi, pendidikan, sains, teknologi, pertahanan, ekonomi kreatif, dan hubungan internasional Indonesia dengan negara-negara frankofon.
"Hal ini penting karena selama ini bahasa Prancis sering dipandang hanya sebagai bahasa budaya atau sastra, padahal bahasa Prancis digunakan secara luas di banyak negara dan organisasi internasional.
"PPPSI-APFI memandang pernyataan ini sebagai visi kebijakan pemerintah yang strategis. Pernyataan Presiden merupakan arah dan visi strategis. Implementasinya tentu saja memerlukan kajian akademik, dukungan kebijakan dan regulasi, pengembangan kurikulum, penyediaan guru, penyediaan standar bahasa Prancis, serta kesiapan sekolah."
Oleh karena itu, PPPSI-APFI memandang penting untuk menyikapi pernyataan tersebut secara proporsional, dengan mengedepankan kajian akademik, perencanaan yang matang, dan keberlanjutan implementasi di lapangan.
"PPPSI-APFI berkeinginan bahwa Bahasa Prancis menjadi mata pelajaran bahasa asing kedua yang memiliki masa depan. PPPSI-APFI memandang kompetensi berbahasa Prancis sebagai bahasa asing yang strategis untuk memperluas peluang generasi muda Indonesia bersaing di tingkat global dalam berbagai bidang."
"Kami berharap perhatian yang diberikan terhadap bahasa Prancis dapat menjadi momentum bagi sekolah dan pimpinan lembaga pendidikan untuk memperluas pilihan bahasa asing di sekolah dan perguruan tinggi, sekaligus memperkuat kesiapan generasi muda Indonesia menghadapi dinamika global yang semakin kompleks."
Menurut catatan media ini PPPSI adalah organisasi profesi yang menghimpun para pengajar bahasa Prancis di Indonesia. PPPSI menggunakan nomenklatur "pengajar" sehingga PPPSI menghimpun dosen, guru, dan instruktur/tentor bahasa Prancis di antero Indonesia.
PPPSI-APFI sendiri berafiliasi dengan Federasi Guru Bahasa Prancis Sedunia atau Fédération internationale des professeurs de français (FIPF) dan Komisi Asia-Pasifik FIPF atau Comission d'Asie Pacifique Fédération internationale des professeurs de français (CAP-FIPF). Saban tahun PPPSI-APFI menggelar Konferensi Internasional tentang Bahasa Prancis atau Conférence international sur le français (CIF).
Para dosen mengajarkan mata kuliah Bahasa Prancis di kampus-kampus, para guru mengajarkan mata pelajaran Bahasa Prancis di sekolah-sekolah dan madrasah-madrasah serta para instruktur atau tentor mengajarkan bahasa Prancis di lembaga-lembaga kursus.
Herman melanjutkan bahwasanya PPPSI-APFI akan siap menjadi mitra pemerintah apabila pada masa mendatang pemerintah mengembangkan kebijakan yang mendorong perluasan pembelajaran bahasa Prancis.
"PPPSI-APFI siap berkontribusi sebagai mitra strategis dalam bidang pelatihan guru, penyusunan kurikulum, sertifikasi kompetensi, pengembangan bahan ajar, dan kerja sama dengan institusi pendidikan Prancis.
PPPSI-APFI juga merasa perlu menyampaikan beberapa kondisi objektif yang perlu menjadi perhatian bersama.sebagai organisasi profesi yang menaungi para pengajar bahasa Prancis di Indonesia.
"PPPSI-APFI memandang bahwa pengembangan pembelajaran bahasa Prancis secara lebih luas perlu didukung oleh perencanaan yang matang dan berbasis pada kondisi riil di lapangan.
Saat ini, katanya, jumlah guru Bahasa Prancis masih relatif terbatas dan persebarannya belum merata di berbagai daerah. Selain itu, program studi Pendidikan Bahasa Prancis di perguruan tinggi perlu terus diperkuat agar mampu menghasilkan tenaga pendidik yang kompeten dan sesuai dengan kebutuhan masa depan.
"Upaya pengembangan ini juga memerlukan dukungan berupa beasiswa, pelatihan berkelanjutan, serta program peningkatan kompetensi bagi guru dan calon guru bahasa Prancis. Di samping itu, kerja sama yang lebih erat dengan Pemerintah Prancis, lembaga-lembaga frankofon, serta berbagai mitra internasional menjadi faktor penting untuk mendukung pengembangan kurikulum," lanjutnya.
Juga soal penyediaan sumber belajar, mobilitas akademik, dan penguatan ekosistem pembelajaran bahasa Prancis di Indonesia. "Dengan memperhatikan aspek-aspek tersebut, pengembangan bahasa Prancis di Indonesia dapat dilakukan secara bertahap, berkelanjutan, dan memberikan manfaat yang optimal bagi generasi muda Indonesia."
PPPSI-APFI meyakini bahwa penguasaan berbagai bahasa asing, khususnya bahasa Prancis, merupakan bagian penting dari pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang unggul dan berdaya saing global.
"Dalam konteks tersebut, bahasa Prancis dapat menjadi salah satu pilihan strategis yang melengkapi kompetensi kebahasaan generasi muda Indonesia. Kami berharap momentum ini dapat mendorong dialog yang lebih luas antara pemerintah, lembaga pendidikan, organisasi profesi, dan mitra internasional untuk merumuskan langkah-langkah yang realistis, inklusif, dan berkelanjutan bagi pengembangan pendidikan bahasa Prancis di Indonesia," tutup Herman.
Foto: Arsip


