Notification

×

Kategori Berita

Cari Berita
© Best Viral Premium Blogger Templates

Iklan

Dialog IMDI Wajo: Adab yang Lemah Termasuk dalam Berdakwah Menjadi Penyebab Perpecahan Umat

Admin
Rabu, 15 Juli 2026 Last Updated 2026-07-15T14:32:11Z


Liputan Abdul Wahab Dai


WAJO--Lemahnya adab termasuk dalam berdakwah menjadi salah satu pemicu terjadinya perpecahan umat. Seringkali seseorang benar dalam dakwahnya, tetapi salah dalam cara menyampaikan. Pengaruh media sosial juga turut memantik perpecahan saat banyak orang lebih mudah menyebarkan berita, potongan ceramah dan lain sebagainya yang memicu permusuhan.



Hal tersebut dilontarkan Mahyuddin Said, S.Ag., S.Pd.I., MA. saat menjadi narasumber dalam acara Dialog Kegamaan Interaktif dan Edukatif: Satu Kiblat Banyak Cara, Mengapa Umat Mudah Terpecah? di Gedung Aula RA Al-Mu’minun Pondok Pesantren Al-Mu’minun Desa Tellesang, Kecamatan Pitumpanua, Kabupaten Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan Rabu (15/07/2026).



Acara ini digelar oleh IMDI atau Ikatan Mahasiswa Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) Komisariat Wajo, Sulawesi Selatan yang mayoritas kadernya mahasantri dan mahasantriwati Sekolah Tinggi Agama Islam/STAI DDI Parepare PSDKU Tobarakka.



Mahyuddin Said mengatakan salah satu nikmat terbesar yang Allah berikan kepada umat Islam adalah persatuan. “Kita memiliki satu Allah, satu Rasul, satu kitab suci, dan satu kiblat, yaitu Kakbah,” ujarnya. Dia pun mengutip QS Ali Imran:103 tentang persatuan yakni “Dan berpegang teguhlah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.”



Mahyuddin melanjutkan penyebab lain terjadinya perpecahan umat adalah kurangnya pemahaman tentang ikhtilaf dan agama Islam mengajarkan adanya perbedaan pendapat dalam hal furuiah. “Fanatisme golongan turut memicu bertambahnya perpecahan ketika seseorang merasa kelompoknya paling benar, dan yang lain salah. 


Dalam materinya Mahyuddin Said mengungkap cara menjaga persatuan umat yaitu dengan mengutamakan ukhuwah, menghormati perbedaan furuiah dan melakukan tabayun.


Dialog yang beradab termasuk dakwah yang beradab digarisbawahi oleh Mahyuddin misalnya penghindaran menyebut nama seseorang dalam khutbah Jumat dan tetap berpegang pada rukun khutbah. Terakhir, katanya, umat senantiasa dapat menjadikan Al-Quran dan Sunah sebagai pedoman dalam menyelesaikan masalah.


Dalam simpulannya Mahyuddin menyebut perbedaan adalah bagian dari kehidupan sembari mengajak peserta dialog --yang terdiri dari puluhan santri (pelajar) dari beberapa pondok pesantren di Pitumpanua—untuk saling menghormati, saling mendoakan, dan bersama-sama membangun umat yang kuat. “Persatuan adalah kekuatan umat. Berbeda tidak harus bermusuhan. Justru menjadikan kita hamba-hamba yang mencintai persaudaraan,” kunci Mahyuddin.


Turut hadir saat pembukaan Camat Pitumpanua, Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Pitumpanua, Lurah Siwa, dan utusan Kepala Polsek Urban Pitumpanua. Ketua Panitia Pelaksana acara ini adalah Musthafah. Ketua IMDI Komisariat Wajo Nurseha dalam sambutannya mengatakan IMDI Wajo melalui dialog ini mengajak kita untuk memahami bahwa perbedaan adalah bagian dari dinamika umat. “Yang terpenting adalah bagaimana kita menyikapinya dengan ilmu, adab, dan semangat persaudaraan sehingga perbedaan tidak menjadi penyebab perpecahan, melainkan menjadi jalan untuk saling memahami.”


Sumber Foto: IMDI Komisariat Wajo

Berita Lainnya

Tampilkan

  • Dialog IMDI Wajo: Adab yang Lemah Termasuk dalam Berdakwah Menjadi Penyebab Perpecahan Umat
  • 0

Terkini