Arsip Foto: Kecelakaan lalu lintas di Bulurirong pada tahun 2025.
Liputan Abdul Wahab Dai
WAJO--Dua titik tanjakan ekstrem dan curam di Desa Baubau, Kecamatan Pitumpanua, Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan pada jalur nasional Trans Sulawesi termasuk di Bulutirong sebaiknya segera dicarikan solusi agar risiko kecelakaan lalu lintas dapat dikurangi.
Pemerintah Pusat sendiri telah memuluskan jalan raya Trans Sulawesi di Kabupaten Wajo termasuk di Pitumpanua. "Patutlah kiranya kita menghaturkan terima kasih kepada mereka yang telah berjasa, berjuang, dan berperan sehingga jalan raya kita lebih lebar dan lebih mulus," ujar Muh. Amin salah seorang tokoh pemuda Pitumpanua kepada media ini Minggu (05/04/2026).
Namun ada yang mengganjal hati warga Pitumpanua akibat kondisi alam sehingga dua titik jalan di Desa Baubau dalam kondisi ekstrem dan curam. Lanjut Muh. Amin.
"Kondisi ini memprihatinkan, lakalantas hampir setiap pekan terjadi akibat pendakian panjang dan tinggi. Terkadang lakalantas terjadi bukan karena muatan yang berat, akan tetapi kondisi curamnya tanjakan yang menjadi penyebab," demikian Muh. Amin.
Ardi Hariyadi Abidin tokoh masyarakat Kelurahan Siwa bahkan menyebut pada Ramadan pekan pertama yang lalu terjadi lagi lakalantas yang menyebabkan pengendara kehilangan nyawa. "Hampir setiap pekan ada yang saja mogok di tanjakan Bulutirong yang mengakibatkan kemacetan di jalan nasional ini," keluh Ardi Hariyadi Abidin Sabtu (04/04/2026) kemarin.
Ardi pun berharap agar ada solusi atas kondisi ini dari Pemerintah misalnya dengan mengeruk, memotong, dan mengikis tanjakan sehingga menjadi lebih landai. "Alternatif lain adalah dengan memperlebar jalan raya pada dua titik tanjakan ekstrem tersebut sehingga bila ada mobil yang mogok tidak bisa menanjak --apalagi melintang di tengah jalan-- kendaraan dari dua arah masih bisa melintas dengan lancar.
Lain halnya Kepala Desa Baubau Burhanuddin kepada media ini mengungkap keluhan para korban lakalantas yang logistik atau muatan truk mereka yang beserakan di jalan sering berkurang saat dikumpulkan kembali. "Ini yang membuat kami malu padahal kami tidak tahu siapa dan orang dari mana yang mengambil barang-barang muatan truk yang kerap terbalik," ujar Burhanuddin akhir pekan ini.
Intisari ke tiga narasumber adalah agar kiranya masalah ini menjadi perhatian segenap pemangku kebijakan. "Semoga ada perhatian ke depannya atau mungkin PU ada pandangan lain atau solusi lain untuk mengurangi lakalantas di Bulutirong," tambah Muh. Amin.
Muh. Amin dalam pandangannya menyebut terjadinya lakalantas terkadang bukan karena mobil yang kelebihan muatan, posisi tanjakan memang yang ekstrem dan curam. "Dan ini melibatkan bus, truk, minibus, mobil niaga. Mereka terkadang harus mengambil haluan di tikungan sehingga rawan terjadi laka," ungkapnya
Sumber Foto: Andi Mis, Rhasma Ari, Ardi Hariyadi Abidin




