Liputan Abdul Wahab Dai
WAJO—Para kader IMDI atau Ikatan Mahasiswa Darud Da’wah wal Irsyad (DDI) Komisariat Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan yang rerata terdiri dari mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam/STAI DDI Parepare menyosialisasikan eksistensi dan penerimaan mahasiswa baru STAI DDI Parepare serta pengenalan Pendidikan DDI di sela-sela Dialog Kegamaan Interaktif dan Edukatif: Satu Kiblat Banyak Cara, Mengapa Umat Mudah Terpecah? di Gedung Aula RA Al-Mu’minun Pondok Pesantren Al-Mu’minun Desa Tellesang, Kecamatan Pitumpanua, Kabupaten Wajo, Provinsi Sulawesi Selatan Rabu (15/07/2026) kemarin.
Ketua IMDI Komisariat Wajo Nurseha berbicara kepada media ini mengatakan STAI DDI Parepare melakukan perkuliahan di Tobarakka Pitumpanua dengan empat program studi yakni Pendidikan Agama Islam, Hukum Keluarga Islam, Ekonomi Syariah, dan Pendidikan Anak Usia Dini. Nurseha dan para kader IMDI Komisariat Wajo pun memaparkan prodi-prodi ini di hadapan puluhan pelajar dan santri dari beberapa pondok pesantren di Pitumpanua dan Keera.
Kemarin saat dialog tampil pula berbicara Muhammad Nasri, S,Pd. alumnus DDI yang mengupas Pendidikan DDI mulai dari sejarah pendirian hingga kini mengelola pendidikan yang mengikuti perkembangan zaman. Menurut Muhammad Nasri saat ini DDI telah mengambil langkah-langkah untuk mempersiapkan santri menghadapi perubahan sosial dan teknologi.
Misalnya, lanjutnya, DDI mengadopsi teknologi informasi dalam proses pembelajaran seperti komputer, internet, dan perangkat digital termasuk pembelajaran jarak jauh (e-learning). “Pengajaran tidak lagi terbatas pada kitab turats, tetapi mencakup literasi digital, pengenalan teknologi, dan keterampilan abad ke-21 agar para santri lebih siap menghadapi tantangan baru dunia modern.”
Sebelumnya pada sesi pagi Mahyuddin Said, S.Ag., S.Pd.I., M.A. dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Pitumpanua yang juga alumnus DDI mengulik lemahnya adab termasuk dalam berdakwah yang menjadi salah satu pemicu terjadinya perpecahan umat. “Seringkali seseorang benar dalam dakwahnya, tetapi salah dalam cara menyampaikan. Pengaruh media sosial juga turut memantik perpecahan saat banyak orang lebih mudah menyebarkan berita, potongan ceramah dan lain sebagainya yang memicu permusuhan,” tegas Mahyuddin Said.
Dalam simpulannya Mahyuddin menyebut perbedaan adalah bagian dari kehidupan sembari mengajak peserta dialog --yang terdiri dari puluhan santri dan pelajar dari beberapa pondok pesantren di Pitumpanua—untuk saling menghormati, saling mendoakan, dan bersama-sama membangun umat yang kuat. “Persatuan adalah kekuatan umat. Berbeda tidak harus bermusuhan. Justru menjadikan kita hamba-hamba yang mencintai persaudaraan,” kunci Mahyuddin.
Pada sesi lainnya tampil berbicara Mujaddid, B.A. Kepala Kesantrian Pondok Pesantren Al-Mu’minun Desa Tellesang, Kecamatan Pitumpanua. Ketua Panitia Pelaksana Musthafah dalam Pembukaan mengatakan acara ini digelar oleh IMDI Komisariat Wajo sebagai upaya memberikan pemahaman kepada santri mengenai pentingnya persatuan umat.
Acara ini dimoderatori ini oleh Muh. Arif Wijaya DM, S.Pd. dan berlangsung sepanjang Rabu dari pagi hingga sore.
Sumber Foto: IMDI Komisariat Wajo





